Suzuki New Carry 2026 Hadir di Marisa Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas Lewat Digital Marketing

Daripohuwato.id – Membangun bisnis tidak cukup hanya dengan memiliki produk. Kemampuan membaca peluang, memahami kebutuhan pelanggan, serta menentukan strategi pemasaran menjadi bagian penting dalam mengembangkan usaha di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin digital.

Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Fachmi Mopangga dalam kegiatan Business Model Canvas (BMC) Workshop & Digital Marketing Education, yang digelar dalam rangka Special Event New Carry 2026 oleh Suzuki Menggapratama Internusa, di Mawar Sharon Marisa, Kamis (17/9/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam materinya, Fachmi menekankan bahwa setiap orang pada dasarnya dapat melihat peluang, tetapi tidak semua mampu mengubah peluang tersebut menjadi sebuah bisnis.

Menurut materi yang disampaikan, peluang bisnis dapat muncul dari berbagai hal, mulai dari masalah yang sering dikeluhkan masyarakat, kebutuhan konsumen, keahlian yang dimiliki, potensi lingkungan sekitar, hingga perkembangan teknologi digital.

“Opportunity-Idea-Action-Business,” menjadi salah satu kerangka yang ditekankan dalam materi tersebut. Artinya, sebuah bisnis dapat berawal dari kemampuan melihat peluang, kemudian mengubahnya menjadi ide dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Fachmi juga memperkenalkan Business Model Canvas sebagai alat untuk memetakan bagaimana sebuah bisnis bekerja.

BMC memiliki sembilan komponen yang membantu pelaku usaha memahami hubungan antara pelanggan, nilai yang ditawarkan, operasional, hingga sumber pendapatan dan biaya.

Dalam materi tersebut, aspek customer dan value menjadi perhatian penting. Pelaku usaha perlu mengetahui siapa pelanggan mereka dan nilai apa yang sebenarnya ditawarkan kepada pelanggan.

Sementara dari sisi operasional, bisnis perlu memahami sumber daya, aktivitas, serta mitra yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha. Dari sisi keuangan, pelaku usaha juga harus mengetahui dari mana pendapatan diperoleh dan apa saja biaya utama yang harus dikeluarkan.

“Jangan hanya menjalankan bisnis. Pahami bagaimana bisnis Anda bekerja,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi tersebut.

Salah satu poin penting lainnya adalah menentukan pelanggan secara spesifik.

Fachmi menekankan bahwa pelaku usaha sebaiknya tidak menggunakan pendekatan terlalu umum dengan menganggap produknya ditujukan kepada “semua orang”.

Sebaliknya, pelaku usaha perlu mengenali siapa pelanggan mereka, apa kebutuhannya, masalah yang dihadapi, bagaimana perilaku mereka ketika memilih dan membeli produk, serta di mana mereka mencari informasi.

Dengan mengenali pelanggan secara jelas, strategi pemasaran dapat dibuat lebih terarah.

Materi tersebut juga menyoroti pentingnya value proposition atau proposisi nilai.

Pelanggan, kata Fachmi dalam materi edukasinya, tidak hanya membeli produk. Mereka juga mencari solusi, kemudahan, kualitas, pengalaman, dan kepercayaan.

Karena itu, pelaku usaha perlu menjawab pertanyaan mendasar: mengapa pelanggan harus memilih bisnis kita dibandingkan pilihan lainnya?

Rumus yang digunakan dalam materi tersebut adalah Customer Need + Your Solution + Your Difference = Value Proposition.

Dengan demikian, nilai sebuah bisnis tidak semata-mata terletak pada barang atau jasa yang dijual, tetapi pada kemampuan bisnis tersebut menjawab kebutuhan pelanggan dan memberikan perbedaan yang relevan.

Di tengah perubahan perilaku konsumen, Fachmi juga mengajak pelaku usaha untuk membawa bisnis mereka ke ruang digital.

Digital marketing tidak hanya dipahami sebagai aktivitas mengunggah konten. Dalam materi tersebut, pemasaran digital dipandang sebagai perjalanan untuk membuat bisnis dikenal, ditemukan, dipercaya, dihubungi, dibeli, hingga akhirnya direkomendasikan oleh pelanggan.

Karena itu, Business Model Canvas perlu dihubungkan dengan strategi digital marketing, mulai dari segmen pelanggan, proposisi nilai, konten, saluran digital, hingga percakapan dengan konsumen.

Fachmi juga menjelaskan bahwa pelaku usaha tidak harus mengikuti semua platform digital yang sedang populer.

Yang lebih penting adalah mengetahui di mana pelanggan mencari informasi dan membuat keputusan pembelian.

Instagram dapat dimanfaatkan untuk branding, produk, visual, dan engagement. TikTok dapat digunakan untuk discovery, video, awareness, dan storytelling. Sementara WhatsApp Business dapat mendukung komunikasi, katalog, tindak lanjut, hingga proses closing.

Marketplace berperan dalam pencarian, perbandingan, dan transaksi. Sedangkan Google Business Profile dapat membantu bisnis dalam pencarian lokal, lokasi, ulasan, dan membangun kepercayaan.

Dalam pemasaran digital, konten juga menjadi bagian penting.
Materi Fachmi membagi konten ke dalam empat pilar, yakni Educate, Entertain, Trust, dan Sell.

Konten edukasi dapat berupa tips, tutorial, dan solusi. Konten hiburan dapat memanfaatkan cerita, tren, maupun aktivitas. Konten kepercayaan dapat berupa testimoni, ulasan, proses, dan pengalaman pelanggan. Sementara konten penjualan berisi produk, manfaat, promosi, dan penawaran.

Pesan yang ditekankan adalah bahwa pelaku usaha jangan hanya berjualan, tetapi juga membangun alasan bagi konsumen untuk percaya.

Lebih jauh, strategi digital marketing perlu melihat perjalanan konsumen secara utuh.

Perjalanan tersebut dimulai dari Awareness, ketika konsumen baru mengetahui sebuah bisnis. Kemudian masuk ke tahap Interest, saat mulai tertarik. Setelah itu Consideration, ketika konsumen mempertimbangkan apakah produk sesuai dengan kebutuhannya.

Tahap berikutnya adalah Conversion, yakni ketika konsumen melakukan pembelian. Setelah pembelian, bisnis diharapkan mampu membangun Loyalty & Advocacy, sehingga pelanggan kembali membeli dan merekomendasikan bisnis kepada orang lain.

Karena itu, ukuran keberhasilan digital marketing tidak semata-mata jumlah like atau followers. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan reach, engagement, leads, sales, serta pelanggan yang kembali membeli dan memberikan rekomendasi.

Melalui materi tersebut, Fachmi Mopangga menempatkan pengembangan bisnis dan digital marketing sebagai dua hal yang saling terhubung. Pemahaman terhadap model bisnis menjadi dasar untuk mengenali pelanggan dan nilai yang ditawarkan, sementara strategi digital menjadi sarana untuk membangun hubungan dengan pelanggan.

Pesan akhirnya sederhana: bangun bisnis, hubungkan dengan pelanggan, dan tumbuh bersama pelanggan.

Pos terkait